"Sebelum membaca lebih jauh,perlu penulis sampaikan bahwa cerita ini tidak akan memiliki akhir. Penulis hanya sekedar menyelesaikan sampai pada Judul,niat awal penulis. Atas segala kerendahan hati penulis memohon maaf atas segala keterbatasan ide dan kekurangan dari cerita kami".
Sejenak menghilangkan peluh di bibir talung,terbersit sedikit kekecewaan ketika tak mampu memperlihatkan sedikit nikmat alam kepada mereka sebelum turun lembah. Satu per-satu tampak meneguk pesismis melihat calon trek yang akan mereka lalui selanjutnya sebelum tiba di tempat camp. Duduk di sela - sela Tamtam dan Rivat,kusengajakan diri tak memulai duluan mengajak untuk lanjut,biar mereka yang mengajak, Agar terkesan masih ada semangat, setidaknya salah satu dari mereka.
Keringat hampir membasahi seluruh wajah sang penikmat alam,menuruni punggung lembah dengan level grid mencapai satu memaksa kami menggunakan keempat kaki kami (tedong ka..??) :D. Sedikit menahan hamstring yang melanda anckle, sebisaku menahan genjotan carrier dan kram dari pinggul ke ujung persendian kaki. "Harusnya nda jatuh tadi waktu masih di kebun".sesalku menahan Nyut-Nyut. Leader juga manusia biasa yang bisa capek + hamstring, namun semangat ingin menyajikan ke mereka sedikit bagaimana menikmati hidup membuat efeknya berubah menjadi bahan bakar terbarukan yang diolah menjadi energi Turbo boost (mohamma'ee).
Bias pukau terlihat terpahat di wajah mereka ketika melihat hamparan tanah lapang yang di tumbuhi ilalang,di petak oleh aliran-aliran sungai kecil yang hampir mengelilingi seluruh area,dan beberapa tenda yang bersusun rapi menambah komposisi view menjadi lebih eksentrik,belum lagi sapi gembala penduduk lokal membuat muka yang tadinya bermodel jajaran genjang itu sedikit memperlihatkan riak riak kepuasan. Tidak salah lagi,"Selamat datang di ramma',Lembah pengharapan". Sambutku menyapa seluruh anggota tim Terkecuali Ara',Hendra dan Ani yang lebih dulu tiba dari saya. Syukron Ya Gusti, akhirnya nyampe juga.
Disela yang lain istirahat,kutambah rute berjalan mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Melalui beberapa pertimbangan,akhirnya keputusannya kita camp di kaki bukit yang bersebelahan dengan danau sejajar barat daya kompas. Hampir berdiri dan "treek",sudah sewajarnya tenda yang memiliki jam terbang yang cukup padat pabrikan Coleman ini memiliki fiber yang telah rapuh. seperti orang Indonesia pada umumnya,dengan hati-hati kami memodifikasi tenda yang mungkin saja dalam perancangannya membutuhkan waktu yang cukup lama,dimana di tangan orang Indonesia hanya membutuhkan beberapa menit untuk merombak dan menjadikannya bentuk "ideal" versi mereka. Alangkah Ngerinya bangsa ini...xixixi. dan haapp,maka berdirilah dua tenda ala kadarnya yang disambut hujan kemayu selang beberapa menit kemudian,memaksa kami berlindung di dalam ruang setengah oval tersebut sampai hujan reda.
Senja merangkak,sadar bahwa kemungkinan menyalakan api saat malam sangat kecil mengingat hujan yang membasahi hampir seluruh ranting di lembah, kami memutuskan masak saja berhubung makan siang belum terealisasikan di perjalanan. Layaknya yang penulis sampaikan pada episode selanjutnya,Ulara' da'do' kekenyangan dan meringkuk ke dalam tenda melewatkan senja menuju malam tanpa bintang. Menghadang malam dengan beberapa gelas kopi buatan sendiri,tampak Rivat tengan bercengkrama dengan seangkatannya, Tata Muda,Penduduk desa Panaikang tidak jauh dari lembah. Diseberang tenda tampak para gadis yang sibuk tak terbiasa dengan kondisi alam,wanna take a pee.
Malam makin serius,Duo Chief yang kemungkinan telah membangun komitmen, terlihat asyik berusaha menyalakan api. Duduk di dalam dapur buatan dari Flysheet yang di bentangkan dengan sebatang kayu di tengahnya, Bersama Hendra membuat coklat panas yang segera menarik perhatian semua peserta,diantaranya Anto dan Ara',disusul Rivat yang meninggalkan Rahmat di pembaringannya (apa moee..). Seringkali terlontar dari mulut Ara' "jadi apami lagi dibiking..??", Serasa tak bijak menjawab,dalam hatiku : "Menikmati alam tidak mesti melakukan sesuatu,cobalah berdiam sejenak dan rasakan sentuhan alam langsung menuju hatimu,Setiap orang memiliki cara masing - masing untuk menemukan keserasiannya dengan alam,maka kaupun akan kubiarkan begitu". Selanjutnya, Tak bisa disangkal lagi,berkumpulnya orang 3 atau lebih di dalam tenda pada malam hari akan memancing pembicaraan yang tidak diketahui hulu dan muaranya. berlansung sampai malam tengah, menciptakan beberapa istilah "ciaa...ciaaa,pepe mimir saaa,apa yang mau ko buktikan dengan bicara begitu..!! yang diinterpretasikan oleh Hendra dengan : apa harapanmu..??".
Sedikit cerita yang mungkin akan menjadi album tersendiri di setiap kami. Album yang mungkin saja akan kami buka di masa yang akan datang untuk bernostalgia ketika kehangatan yang serupa tak lagi ada di masa tua kami.
This is all about..
This is what I have in mind..

(cerita ini sedikit kami improve untuk menyesuaikan narasi dan konteks,dan sebenarnya tak ada akhir dari cerita ini,karena memang kami tak pernah berharap cerita ini berujung/akhir)
Terima kasih.
Salam Lestari,Taufik Maulana | 26 Mei 2012 | 05:13 WITA