Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 5

"Sebelum membaca lebih jauh,perlu penulis sampaikan bahwa cerita ini tidak akan memiliki akhir. Penulis hanya sekedar menyelesaikan sampai pada Judul,niat  awal penulis. Atas segala kerendahan hati penulis memohon maaf atas segala keterbatasan ide dan kekurangan dari cerita kami".
    
     Sejenak menghilangkan peluh di bibir talung,terbersit sedikit kekecewaan ketika tak mampu memperlihatkan sedikit nikmat alam kepada mereka sebelum turun lembah. Satu per-satu tampak meneguk pesismis melihat calon trek yang akan mereka lalui selanjutnya sebelum tiba di tempat camp. Duduk di sela - sela Tamtam dan Rivat,kusengajakan diri tak memulai duluan mengajak untuk lanjut,biar mereka yang mengajak, Agar terkesan masih ada semangat, setidaknya salah satu dari mereka.

     Keringat hampir membasahi seluruh wajah sang penikmat alam,menuruni punggung lembah dengan level grid mencapai satu memaksa kami menggunakan keempat kaki kami (tedong ka..??) :D. Sedikit menahan hamstring yang melanda anckle, sebisaku menahan genjotan carrier dan kram dari pinggul ke ujung persendian kaki. "Harusnya nda jatuh tadi waktu masih di kebun".sesalku menahan Nyut-Nyut. Leader juga manusia biasa yang bisa capek  + hamstring, namun semangat ingin menyajikan ke mereka sedikit bagaimana menikmati hidup membuat efeknya berubah menjadi bahan bakar terbarukan yang diolah menjadi energi Turbo boost (mohamma'ee).

      Bias pukau terlihat terpahat di wajah mereka ketika melihat hamparan tanah lapang yang di tumbuhi ilalang,di petak oleh aliran-aliran sungai kecil yang hampir mengelilingi seluruh area,dan beberapa tenda yang bersusun rapi menambah komposisi view menjadi lebih eksentrik,belum lagi sapi gembala penduduk lokal membuat muka yang tadinya bermodel jajaran genjang itu sedikit memperlihatkan riak riak kepuasan. Tidak salah lagi,"Selamat datang di ramma',Lembah pengharapan". Sambutku menyapa seluruh anggota tim Terkecuali Ara',Hendra dan Ani yang lebih dulu  tiba dari saya. Syukron Ya Gusti, akhirnya nyampe juga.

      Disela yang lain istirahat,kutambah rute berjalan mencari tempat yang pas untuk mendirikan tenda. Melalui beberapa pertimbangan,akhirnya keputusannya kita camp di kaki bukit yang bersebelahan dengan danau sejajar barat daya kompas. Hampir berdiri dan "treek",sudah sewajarnya tenda yang memiliki jam terbang yang cukup padat pabrikan Coleman ini memiliki fiber yang telah rapuh. seperti orang Indonesia pada umumnya,dengan hati-hati kami memodifikasi tenda yang mungkin saja dalam perancangannya membutuhkan waktu yang cukup lama,dimana di tangan orang Indonesia hanya membutuhkan beberapa menit untuk merombak dan menjadikannya bentuk "ideal" versi mereka. Alangkah Ngerinya bangsa ini...xixixi. dan haapp,maka berdirilah dua tenda ala kadarnya yang disambut hujan kemayu selang beberapa menit kemudian,memaksa kami berlindung di dalam ruang setengah oval tersebut sampai hujan reda.

     Senja merangkak,sadar bahwa kemungkinan menyalakan api saat malam sangat kecil mengingat hujan yang membasahi hampir seluruh ranting di lembah, kami memutuskan masak saja berhubung makan siang belum terealisasikan di perjalanan. Layaknya yang penulis sampaikan pada episode selanjutnya,Ulara' da'do' kekenyangan dan meringkuk ke dalam tenda melewatkan senja menuju malam tanpa bintang. Menghadang malam dengan beberapa gelas kopi buatan sendiri,tampak Rivat tengan bercengkrama dengan seangkatannya, Tata Muda,Penduduk desa Panaikang tidak jauh dari lembah. Diseberang tenda tampak para gadis yang sibuk tak terbiasa dengan kondisi alam,wanna take a pee.

     Malam makin serius,Duo Chief yang kemungkinan telah membangun komitmen, terlihat asyik berusaha menyalakan api. Duduk di dalam dapur buatan dari Flysheet yang di bentangkan dengan sebatang kayu di tengahnya, Bersama Hendra membuat coklat panas yang segera menarik perhatian semua peserta,diantaranya Anto dan Ara',disusul Rivat yang meninggalkan Rahmat di pembaringannya (apa moee..). Seringkali terlontar dari mulut Ara' "jadi apami lagi dibiking..??", Serasa tak bijak menjawab,dalam hatiku : "Menikmati alam tidak mesti melakukan sesuatu,cobalah berdiam sejenak dan rasakan sentuhan alam langsung menuju hatimu,Setiap orang memiliki cara masing - masing untuk menemukan keserasiannya dengan alam,maka kaupun akan kubiarkan begitu". Selanjutnya, Tak bisa disangkal lagi,berkumpulnya orang 3 atau lebih di dalam tenda pada malam hari akan memancing pembicaraan yang tidak diketahui hulu dan muaranya. berlansung sampai malam tengah, menciptakan beberapa istilah "ciaa...ciaaa,pepe mimir saaa,apa yang mau ko buktikan dengan bicara begitu..!! yang diinterpretasikan oleh Hendra dengan : apa harapanmu..??".

Sedikit cerita yang mungkin akan menjadi album tersendiri di setiap kami. Album yang mungkin saja akan kami buka di masa yang akan datang untuk bernostalgia ketika kehangatan yang serupa tak lagi ada di masa tua kami.

This is all about..
This is what I have in mind..



(cerita ini sedikit kami improve untuk menyesuaikan narasi dan konteks,dan sebenarnya tak ada akhir dari cerita ini,karena memang kami tak pernah berharap cerita ini berujung/akhir)
Terima kasih.

Salam Lestari,Taufik Maulana | 26 Mei 2012 | 05:13 WITA
      

Tanpa spasi

Berjalan di pinggir,tak mesti melihat ke tengah-tengah..
Berjalan satu kaki tak mesti dibantu tongkat..

Daun Meranggas menyambut kemarau...
Menutup alas tanpa spasi..

Lengah,
Pekat,

Tanpa kasih.


Penulis malam_

Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 4

      Angin utara seolah membawa kabut tipis turun pelan-pelan mewarnai sabtu subuh Lembanna, Dingin menjadi teman bagi sepuluh ksatria penggalau yang masih terlelap di pangkuan sang mimpi. Adzan subuh terdengar melingkar di langit lembayu dengan tambahan backsound dari pejantan spesies G.Gallus domesticus dari ordo Galliformers kelas Aves kerajaan Animalia (baca mi saja : ayam kampung). Meniru ayam berkokok "Pok..pok...pokk...!!", disambut cengingisan jelita dari dalam kamar. Menerima sensor otak dari telinga, bawah sadarku memanggil halusku yang berkelana untuk kembali ke kasarku dan menanggapi respon eksternal,mengembalikan kesadaran manusiawi."kenapa kaya dekat sekali ini ayam", celotehku bertemu sadar. "Bajiguuur,ayam gondrong pale" batinku setelah mendengar kokokan si troublemaker untuk yang kedua kalinya.

      04:31 Wile,Satu kelopak mata yang masih melekat,kuberanikan diri keluar dari cengkraman selimut penjaga dari serangan dingin yang ternyata masih tembus juga. Separuh pasukan juga sudah terjaga. Kupaksakan beranjak menyiapkan sarapan, diikuti langkah Wana,Puspa dan Ara' yang mondar-mandir dari kamar ke dapur,ambil wudhu'. Berkumpul di ruang tamu,semuanya duduk membungkuk menafikan dingin,menatap bulir bulir Energen yang masih beruap. Sayup terdengar suara MP3 Player mendendang Hitlist Adele - Set fire to the rain.

But there's a side to you that I never knew, never knew
All the things you'd say, they were never true, never true
And the games you'd play, you would always win, always win

But I set fire to the rain
Watched it pour as I touched your face
Well, it burned while I cried
'Cause I heard it screaming out your name, your name
 

     Tak mau didahului,fajar menyeruak angkuh,memberikan peta-peta warna pada bidang bidang perkebunan,refleksi bias sinarnya menyatu dengan kulit keriput warga yang sudah mulai berangkat mengolah kebun masing-masing. Kami pun telah siap."Lampama rong amma'.." pamit dulu sama tuan rumah.

      Awal pendakian dimulai diatas aspal beton kemudian di lanjutkan meniti pematang dan parit kecil (irigasi) kebun warga setempat,Sempat salah jalur sih waktu masih di perkebunan,tapi setelah sedikit fokus dan intersection (pengecekan jalur) akhirnya kembali ke jalan yang benar,seeeeett. Selepas perkebunan warga sebelum memasuki hutan Bawakaraeng (119°56’37” BT dan 05°19’02” LS) Hutan pinus seolah menjadi gerbang penyambut para pendaki. Memasuki hutan pinus kami berhenti sejenak untuk kembali memohon keridhaan Sang maha besar untuk merestui perjalanan kami dan mengirimkan malaikat untuk menemani kami selama pendakian. Ditambah sedikit briefing langkah kamipun menyusuri tanah berkemiringan sekitar 30-45 derajat dengan beberapa batu lepas yang kadang mengecoh. Membutuhkan tenaga yang ekstra untuk mencapai pos 1,apalagi bagi yang lupa warm-up dulu sebelumnya,wah..bisa sampe pucet,trus bilang  "sampe disinima saya deh.."ups!. (penulis salah lagi deh..). Pos 1 ditandai dengan tanah lapang melingkar dengan jalur di sebelah kiri menuju air terjun. Tak selang beberapa lama beristirahat (we have to move on),lanjut menuju pos 2 dengan jalur yang sedikit landai,di sekitar rute menuju pos 2 dikelilingi tanaman perdu liar dengan buah mirip strawberry. Memakan waktu sekitar 25 menit untuk mencapai pos 2,disinilah persimpangan rute menuju puncak dan ke lembah. Dan juga tempat terakhir yang dilalui jaringan provider telekomunikasi seluler. Mendengar ada sinyal,semuanya pada keluarin gadget seluler (bikin wasiat..gegege) kecuali saya,yang tak punya apa apa untuk diwariskan,cuma hati yang sedikit keras kepala (watauww..!!).

      Kembalii ke laapttop..! lanjut lagi belok kanan menapaki jalur datar melewati beberapa sungai kecil dan dua sungai besar yang membutuhkan jembatan yang terbuat dari beberapa batang pohon yang diikat. Sesampainya di sungai terakhir sebelum menaiki punggung talung (dinding lembah),take a rest,re-charging energy and nutrition. Yup,menu pagi ini (agaiin..??) roti bakar ala cak ipo,gelar Anto sambil take a picture on me, Ara' dan Puspa tampak merebahkan badan diatas matras yang di gelar di depan Wana dan Ani yang duduk diatas batu besar,menikmati letih.

      Usai sarapan untuk yang kali keduanya, kemiringan trek yang mencapai grid dua membuat suara suara sumbang muncul dari belakang," masih jauh kah kak..??", "dekatmi..sampe diatas baru turun lagi satu kali,sampemaki", lirihku. Belum sampai di talung,gerak kaki berhenti karena teriakan Ani "ihh..banyak darahnya","matimija..apami itu berdarah",tanggapku dalam hati sambil menoleh kebelakang. Ternyata Jempolnya Ara' tertusuk serpihan batu o_O' (yang manami itu jempolnya..?? :p), Berbekal First Aid Kit seadanya,berlagak sok kedokteran,diriku membalut luka (apaa..?? membalut luka..?? enya' enya'). Masalah terselesaikan,perjalanan berlanjut menuju tepi talung,but very regrettable, Sekiranya malu,Ramma' lagi menutup diri dengan kabut tebal. Mungkin belum jodoh dengan landscape view dari atas talung.

Sudahmi dulu di',biarmi selesainya di part 5 saja..:D.



to be continued (agaiin..??)hehehe.















Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 3

      Senja mengejar, Lima kuda besi berpacu diantara riuhnya kota yang sedang asyik sendiri. Berikut senja,awan hitam pun ikut-ikutan mengejar menggendong jutaan galon air sambil sesekali menumpahkannya,seolah meng-aamiin-i perjalanan kami mengusir debu di seluruh trek yang akan kami tempuh. Tamalanrea-Antang-Samata-Parangloe-Pangajian-Pesanggrahan-Lembanna, Jalur yang tidak asing lagi bagi kami, Organisatoris maupun Penggiat alam bebas di Makassar. Dingin sudah terasa menusuk semenjak roda memasuki desa Pesanggrahan, Malam pun menjemput ramah dengan sapuan kabut di 1400 mdpl. Yup,kami tiba di Dusun Lembanna Desa Bulu’ Tana, Kec. Tinggi Moncong (Malino), Kab.Gowa.Seperti biasa kami memilih langsung menuju ke rumah Amma' (camp KPPA SAHARA NUSANTARA di Lembanna) ,daripada ke rumah Tata Rasyid (Juru kunci Gunung Bawakaraeng). Kami memilih berangkat keesokan hari saja mengingat alat penerangan tidak memungkinkan untuk perjalanan pada malam hari,olehnya itu malam akan kami habiskan di rumah Amma',rumah yang selalu menerima kami setiap saat. 

      Diiringi alunan senandung sang maestro Inka Christie - Rela, Gosip tengah malam berlanjut, Tamtam (panggilan mesra Rahmat) menyeduh air panas untuk menemani malam yang nantinya akan memaksa kami terlelap layaknya ikan sarden dalam kaleng.

Reff :
Demi cinta yang menyala
Kurela menggenggam bara api
Demi kasih yang mengharum
Sungguh aku rela

Biarpun pada pandangan
Seperti bunga yang layu terbuang
Namun kau pasti tahu
Semua kerna
Aku masih lagi setia padamu
Puas ku menangis seumpama pengemis

oh yaa..ngemeng-ngemeng ikan sarden,malam itu sebelum terlelap kami berniat mengisi usus yang sudah kosong dari semester satu (hehe..lebay deh). Melalui pemufakatan menyimpulkan malam ini lauknya ikan sarden,maka termasaklah ikan sarden oleh saya,dan nasinya oleh duo chef tamtam & rivat. Kurang dari setengah jam tersajilah ikan sarden diatas meja menanti nasi yang belum muncul dari dapur (loh kok?). Penuh harap, Semua mata tertuju dan (mungkin) bertanya dalam hati "nasinya mana..??", lengkap dengan pancinya,rivat muncul dari arah dapur. " napa bau telur..?" seru ara' tiba-tiba, "Itu kan nasi..? Kapan telurnya di beli..?" lanjutnya dalam hati. Hening. Mungkin efek lapar,semuanya pada mengendus (cari tau situ ee). sontak hendra intrupsi "bau kentut itu..!",Mungkin tidak tega temannya kena racun. Namun yang diherankan,Rivat dengan muka innocent-nya cuma senyum-senyum (apa gerangan di balik semua itu..?? tanya budi,nah lo.??). Tak pelak tawa lepas bersahutan malam itu,sampai tulisan ini diketik "Misteri bau telur" ini masih kontroversi tentang siapa diantara mereka berdua pelakunya.

     Setelah drama yang mengguncang isi perut,semua menyantap makan malam ditemani angan-angan "besok gimana yah perjalanannya.? mudah²an semuanya baik-baik saja,all is well". (mengutip film bollywood 3 Idiots). Dan tak diragukan lagi (dasar ulara' da'do') setelah menghabiskan hidangan makan malam,berlomba lomba para ladies masuk ke dalam sleeping bag,diatas kasur,di dalam kamar dan membiarkan kami para pejantan tambun ini berada di ruang tamu,diatas kursi cuma pake sarung,Sungguh ter..la..lu..(begitu malang nasipmu ana' muda). tapi setidaknya itu memberikan kami pelajaran bahwa "mati kiri" bisa membuatmu mati kedinginan juga (qeqeqe..just kidding pemirsa), pelajaran sebetulnya adalah syukuri apa yang kamu punya sekarang,sebab di tempat lain ada orang yang sangat menginginkan seperti apa yang kamu punya (acia..ciaa). Terhipnotis,satu per satu jatuh tak sadaran diri di pangkuan malam yang indah di kaki gunung bawakaraeng,dengan sesekali di ikuti igauan awal "brrrrr...dinginna Tuhan..",5 menit kemudian mengigau lagi "Astaga,brrrr..kugigi' lidahku"..:v.




Malam yang indah bukan? sobat.







to be continued..(tenang pemirsa,ini nda kaya cinta fitri ji..:p)

Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 2

      Jumat, 10.34 WITA Kamar kost. Seusai menyeruput Good Day Freeze dengan mulut penuh koyakan donat sisa semalam (balalana..) teringat janji Rivat yang katanya mau datang jam segini trus nemenin belanja ransum,tapi batang telinganya belum kelihatan juga sampe sekarang. " telpon deh..",kubilang dalam hati.

tuuut...tuuuuut....kreek..

Rivat : (setengah berbisik) tayangi rong komandang,ri kampuska anne..
saya : (nda stengah tapi teriak mentong)jang siapa nassulu'ko..? attayang ma anne..
Rivat : (tambah kecil suarana)ero'ma assulu anne...tayangma ri balla'nu..

teeeg. call ended.

     Betul juga,setengah jam kemudian seonggok daging bercampur darah dan tulang dengan tinggi sekitar 168 cm berdiri tepat di pintu kamarku memasang senyumnya yang paling indah (bedee..) "tekamma ji komandang,lampamaki..?" ujarnya selagi melepas sandal galah hitam keluaran EIGER Adventure Gear. Dengan badan masih terlentang di kasur busa sambil mendengar musik yang dimainkan AIMP3 (Blackout-Selalu Ada) :

Chorus:
E                  G#
Tuhan Engkau tahu aku mencintainya
A                         Am
dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
E                    G#
Tuhan hanya dia yang selalu ada
A             Am
dalam anganku dalam benakku

"Mbeemoo.." ucapku seraya mengangkat badan dengan sedikit style manja. Standard orang tajir kita pilih belanjanya di Swalayan besutan negeri menara miring,Carrefour. Mungkin pengaruh umur (bukan kau rivat kumaksud..:p),eh lupa bawa checklist belanjaan,terpaksa dengan segala upaya mengandalkan naluri koki (aciaa..aciaa..aciaa..) melibas seluruh bahan yang dianggap perlu.
      02.12 WIPA (Waktu Indonesia bagian Panakkukang) Think that everything has been buyed,ala gaya ibu rumah tangga nenteng bungkusan belanjaan langsung menuju area parkir. Back to base,kuarahkan kembali kuda biruku menuju kamar kost yang juga sebagai gudang persenjataan mountaineering. Dengan segala keribetan,walhasil semua perlengkapan tempur dan ransum tercover dalam carrier 75 + 5  liter pabrikan Consina yang kubeli dari hasil bongkar celengan. "kenapa lama sekali itu orang tua,mana masih mau ambil tenda lagi satu" membatinku lagi mengingat rivat yang katanya mau balik sebentar tapi sudah sejam. setelah coba dial beberapa kali akhirnya dari ujung lorong kelihatan bodi bongsornya mendekat pasang muka innocent.huft. Tanpa membuang waktu lagi meluncur ke checkpoint (Basecamp Technic Study Club) eh singgah dulu di sekretariat Coconut Computer Club pinjam tenda.

    
04.15 Wita. Sedikit lambat dari appointment,meskipun selap-selip sana-sini mirip palengtino rossi. Wah benar dugaanku," Tinggal kita mami ditunggu vat",selaku sambil mengeluarkan ransum yang akan di-split ke semua (bagi rata toh,masa saya semua yang tangkis :|). Checking :

Ransum,ok.

raincoat,ok. 
tenda,ok.
matras,ok.
kompor,ok.
tabung,ok.
Armada,ok.

Check Person :

Hendra Ruse,ada.
Muh. Syawal,ada.

Hermanto Syam,ada.
Rahmat,ada.

Rivat Mahendra,ada.
Saya sendiri,ada.
Siswanti Wiratami anni,ada.
Siswana Asis,ada.
Dewi Puspa,ada.
Sestiani Ruru Bari,ada. (ada kah..?? :p).


"seep,10 orang lengkap,ayo kita kemon..".

      05.02 Wita kami beranjak menuju Lembanna,desa di kaki gunung bawakaraeng,start point para pendaki baik menuju puncak maupun yang hanya ke ramma',ya lembah ramma'. itu tujuan kami.

(oia,sudah habis part 2 kok blum ada penjelasan karakter..?? harusnya kan urutannya
: pengantar, penjelasan karakter, menuju konflik, konflik, lalu selesai..) dasar author bajakang.
 Yo wes lah,daripada tidak ada sama sekali,mending saya tuliskan saja sekarang pemirsa. 


Muh.Syawal,Lahir dengan rasa ingin tahu yang kuat,dengan sedikit keluguannya dia tampil apa adanya,style dan attitude.Porsi tubuh ideal dengan perut sedikit offside,kulit sawo hangus dengan kumis yang dibiarkan tumbuh membuatnya diberi gelar lain selain gelar sarjananya,Cappi'.

Rivat mahendra,Ini orang tuanya kita (1983 qeqeqe),klo mau dipisahkan antara pemikir dan pekerja,dia salah satu tipe pekerja,talk less do more. Dengan kedewasaan tingkat politikus,kebijakannya tak diragukan lagi. Dia suka baca.


Hermanto Syam, Semangat muda,perawakan manis dengan bulu mata lentiknya. Haus akan filosofi kehidupan yang masih asing buatnya. sanguinis mendalam.(juga,paling benci sama homo.)

Hendra Ruse, I just wonder if this man
was born preterm,ato waktu kecil entah kepalanya terbentur dimana sehingga besarnya kok hancur gini..(hehehe,intermezzo bro). katanya dia ini karakternya koleris 40 % sanguinis 30 % melankolis 20% plegmatis 10 %,nah loo..!. pembawaan kocak, di mana ada dia pasti kacau,makanya di panggil si Trouble maker, tapi jauh di dalam hati tersimpan kepedulian yang tulus.

Rahmat,Loyalitas tinggi dan mampu memegang janji. Style sedikit slengean dengan khas celana cargo,si cowok plegmatis ini sempat dipercayakan sebagai koordinator bidang petualangan KPPA SAHARA NUSANTARA.

Siswanti Wiratami Anni,Wanita yang punya hobby olahraga Tae kwon do ini katanya manusia anti-galau,lahir di bulan july memastikan zodiaknya cancer. ceria dengan dialek khas papua dan pasti hadir di setiap sesi foto².Overall,dia unyu'-unyu'.

Siswana Asis,Perempuan prinsipil yang teguh,tidak suka punya utang dan gemar merintih (mama etaee o_O'),seperti karakter pisces pada umumnya memiliki sisi manuasiawi yang besar,penuh cinta,praktis dan suka menghayal. Cokelat adalah warna favoritnya.


Dewi Puspa,yang bahagia,yang ceria,yang heboh itulah dia. karakter dominan sanguinis membuatnya tak henti menggucang orang² di sekitarnya. Tubuh mungil bertenaga kuda yang aktif di berbagai struktur organisasi. Kepastian dan kehendak yang kuat diiringi jiwa toleransi wajar dimiliki seorang berzodiak lambang banteng.

Sestiani Ruru Bari,Wanita dengan mental yang kuat,fast to blend,selera humor yang tinggi dan sedikit keras kepala. Penggemar FC Barcelona ini paling suka curhat dan dimanjain.




 

To be continued...



Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 1

Kalau Semeru punya Ranu kumbolo,Bawakaraeng punya Ramma', dan dari sana lah cerita bermula.
    Resign dari GREENPEACE SOUTHEAST ASIA sebagai Direct Dialogue Campaigner membuatku melakoni rutinitas "Onlen sampe pagi". Mirip malam sebelumnya, dengan mata setengah redup menatap kotak 10,6 inch dengan gambar menggulung naik turun mengikuti tarikan jari telunjuk pada scroll mouse, browsing sana sini, download ini itu.

     Separuh sadar terdengar chat sound facebook, Haohmaru teranu anu "chom,sudah invite ara'.?? kemaren katanya klo mo mendaki,mau di ajak. Isi chatting hendra ruse menanggapi event invite yang kukirimkan ke akun facebooknya. "ajak mi saja". balasku. Selang lima menit adu keyboard chat sound bunyi lagi, dari Siswanti Wiratami anni : "kak mauka ikut ke ramma tapi masa sendirika cewek". katanya. Setelah kusarankan mengajak temannya yang lain akhirnya dapat satu. Puspa. "wokeeh,hari jumat,jadi". end of conversation. Semangat 45 kuraih Samsung S3650 Corby orange untuk men-text Tamtam Tho Buttu :

to  : Fomi Tamtam

tam, jumat,jadi. stengbai bawa carrier ada cwe 2 mo ikut.

Sending..
success.

      Kamis, 19.44 WITA Basecamp Technic Study Club,Di ruang tengah sudah ada Awal dan Puspa. "Jadi berapa orang fix..?",lontarku seraya mengambil posisi duduk diatas kasur yang sengaja di taruh didepan televisi. "Wana juga mau ikut tapi di larang kak",sambung puspa. " saya fix ji",timpal awal. belum sempat bicara lagi teriakan salam ara' terdengar dari pintu depan, berlari tergopoh langsung mengambil posisi tragis (eh..strategis). "Trus wana mana..?, tanyaku membuat semua pandangan dari ara' berpindah ke arahku. "itu kak,di kamar sebelah sama hendra". jawab puspa lirih. Sambil memutar badanku 45 derajat ke kiri menelusuri kamar yang berukuran 2x3 yang cuma cukup untuk satu kasur butut dan satu lemari pakaian dua kolom,terlihat sosok jelita selonjoran dengan muka bengkok seperti baru kehilangan uang lima ratus ribu,siswana asis,rebahan di sebelahnya ada si gondrong "hendra" tolo. "Wana jadi ikut..?, pertanyaanku dijawab muka manyun.

     Malam semakin pucat,masih di ruang tengah merancang manajemen perjalanan,wana terlihat lalu lalang dengan handphone nokia di tangan kirinya,negosiasi ala diplomat. "Yeaah..dapat ijin,aseek...!",teriak wana sambil jalan sedikit berlari mendekati ara'. "Wah,tambah satu lagi", Batinku. "Jadi perkepala kumpul tiga puluh ribu nah,besok saya mau belanja ransum,besok kita kumpul disini jam empat sore,ntekamma?",kesimpulan terakhir yang kuucapkan seolah menjadi ketukan palu tanda meeting berakhir. "seep..!", serentak jawaban mereka diiringi masing-masing tangan menopang badan untuk berdiri dan beranjak dari ruang tengah. teek,bruuumm..akselerasi sepeda motor yamaha type mio tahun perakitan 2011 yang kutunggangi mengantarku pulang ke kotak (baca: kamar kost)ku membelah angin malam kota Daeng. Setiba di kamar kusambar tombol power netbook sambil menunggu booting dan memasukkan password bios (jaga jaga dari palukka) tituuut,ringtone text message bunyi,nomor tak terdaftar di kontak :



k'ipo..ani baru2 ka ini na kbri dia jd ikt bsk...gmn bsa?

10 may 2012 23:24
From : +62812419463xx

"Waduh..empa' cewe',harus pendekar inne ku erang", batinku sambil menepuk jidat yang sudah mengkilap karena minyak bercampur debu. Seolah menjawab keluhanku one text message lagi,again..??

iku' tongnga kodong komandang..
rivat.

10 may 2012 23:24
From : (lupa nomornya)

"Bolehlah,tambah satu lagi pattangkis carrier",gumamku dalam hati sembari mengupdate status facebook.

10 Peserta : 6 Cowok - 4 Cewek.

Wah....Untung Cowok yang kubawa semuanya Gladiatorji.
# Haohmaru Ter Anu Anu, Ahli Wc Buntu, Tamtam Tho Buttu, Awal Akhir, Hermanto Syam Siap siap tidur modal flysheet nah...:D

 like.comment


To be continued..

Copyright © / SiLeNt Ivy

Template by : anakpedalaman / powered by :blogger