Ramma' ,When 2 Beautiful thing's meet. Part 3

      Senja mengejar, Lima kuda besi berpacu diantara riuhnya kota yang sedang asyik sendiri. Berikut senja,awan hitam pun ikut-ikutan mengejar menggendong jutaan galon air sambil sesekali menumpahkannya,seolah meng-aamiin-i perjalanan kami mengusir debu di seluruh trek yang akan kami tempuh. Tamalanrea-Antang-Samata-Parangloe-Pangajian-Pesanggrahan-Lembanna, Jalur yang tidak asing lagi bagi kami, Organisatoris maupun Penggiat alam bebas di Makassar. Dingin sudah terasa menusuk semenjak roda memasuki desa Pesanggrahan, Malam pun menjemput ramah dengan sapuan kabut di 1400 mdpl. Yup,kami tiba di Dusun Lembanna Desa Bulu’ Tana, Kec. Tinggi Moncong (Malino), Kab.Gowa.Seperti biasa kami memilih langsung menuju ke rumah Amma' (camp KPPA SAHARA NUSANTARA di Lembanna) ,daripada ke rumah Tata Rasyid (Juru kunci Gunung Bawakaraeng). Kami memilih berangkat keesokan hari saja mengingat alat penerangan tidak memungkinkan untuk perjalanan pada malam hari,olehnya itu malam akan kami habiskan di rumah Amma',rumah yang selalu menerima kami setiap saat. 

      Diiringi alunan senandung sang maestro Inka Christie - Rela, Gosip tengah malam berlanjut, Tamtam (panggilan mesra Rahmat) menyeduh air panas untuk menemani malam yang nantinya akan memaksa kami terlelap layaknya ikan sarden dalam kaleng.

Reff :
Demi cinta yang menyala
Kurela menggenggam bara api
Demi kasih yang mengharum
Sungguh aku rela

Biarpun pada pandangan
Seperti bunga yang layu terbuang
Namun kau pasti tahu
Semua kerna
Aku masih lagi setia padamu
Puas ku menangis seumpama pengemis

oh yaa..ngemeng-ngemeng ikan sarden,malam itu sebelum terlelap kami berniat mengisi usus yang sudah kosong dari semester satu (hehe..lebay deh). Melalui pemufakatan menyimpulkan malam ini lauknya ikan sarden,maka termasaklah ikan sarden oleh saya,dan nasinya oleh duo chef tamtam & rivat. Kurang dari setengah jam tersajilah ikan sarden diatas meja menanti nasi yang belum muncul dari dapur (loh kok?). Penuh harap, Semua mata tertuju dan (mungkin) bertanya dalam hati "nasinya mana..??", lengkap dengan pancinya,rivat muncul dari arah dapur. " napa bau telur..?" seru ara' tiba-tiba, "Itu kan nasi..? Kapan telurnya di beli..?" lanjutnya dalam hati. Hening. Mungkin efek lapar,semuanya pada mengendus (cari tau situ ee). sontak hendra intrupsi "bau kentut itu..!",Mungkin tidak tega temannya kena racun. Namun yang diherankan,Rivat dengan muka innocent-nya cuma senyum-senyum (apa gerangan di balik semua itu..?? tanya budi,nah lo.??). Tak pelak tawa lepas bersahutan malam itu,sampai tulisan ini diketik "Misteri bau telur" ini masih kontroversi tentang siapa diantara mereka berdua pelakunya.

     Setelah drama yang mengguncang isi perut,semua menyantap makan malam ditemani angan-angan "besok gimana yah perjalanannya.? mudah²an semuanya baik-baik saja,all is well". (mengutip film bollywood 3 Idiots). Dan tak diragukan lagi (dasar ulara' da'do') setelah menghabiskan hidangan makan malam,berlomba lomba para ladies masuk ke dalam sleeping bag,diatas kasur,di dalam kamar dan membiarkan kami para pejantan tambun ini berada di ruang tamu,diatas kursi cuma pake sarung,Sungguh ter..la..lu..(begitu malang nasipmu ana' muda). tapi setidaknya itu memberikan kami pelajaran bahwa "mati kiri" bisa membuatmu mati kedinginan juga (qeqeqe..just kidding pemirsa), pelajaran sebetulnya adalah syukuri apa yang kamu punya sekarang,sebab di tempat lain ada orang yang sangat menginginkan seperti apa yang kamu punya (acia..ciaa). Terhipnotis,satu per satu jatuh tak sadaran diri di pangkuan malam yang indah di kaki gunung bawakaraeng,dengan sesekali di ikuti igauan awal "brrrrr...dinginna Tuhan..",5 menit kemudian mengigau lagi "Astaga,brrrr..kugigi' lidahku"..:v.




Malam yang indah bukan? sobat.







to be continued..(tenang pemirsa,ini nda kaya cinta fitri ji..:p)

Copyright © / SiLeNt Ivy

Template by : anakpedalaman / powered by :blogger